Sabtu, 02 Maret 2013

Fatalisme

Suara belati bermain di kelopak mata
Menyanyikan lagu lawas, sebelum aku lahir
Kau berputar badan, aku terkesima
Di kolam peradaban
Sembari menghitung bintang-bintang punah

‘Adzamku menanam benih
Rahimnya telah ternodai
Kau buat penjara bangsa ini
Aku gemetar didatangi hulu kapal

Potong saja tanganku!
Kau aniaya diriku dengan sadis
Kau gorok leherku
Kau bungkam mulutku
Kau masukkan ku ke dalam peti mati suri
Aku tak gentar pada mati

Hakikatnya kau potong tangan Tuhan
Karena tak rela kitabmu didustai
Adilkah menurutmu?
Bukankah mati satu lebih baik
Sebagai sesajian kepada Rabbmu

oo, aku membeku rupanya
Seperti Jeumpa yang tak merona lagi
Bukit-bukit intelektual juga saksi
Akan meledak di sini
Tentu kitabmu bukan kitabku!


Banda Aceh, 20 Feb 2013

Doa

Tuhanku
Bersimpuh aku di bawah ‘Arasymu
Kau maha pencipta dari ketiadaanku
Membentukku dengan sempurna
Kau ciptakan akalku dari akalMu
Kau ciptakan jiwaku dari jiwaMu
Kau lempar bumi sebagai rumahku
Kau jadikan Nabi sebagai panutanku
Tak sirna syukurku. Tak sirna syukurku
Maka sempurnakanlah dzikirku malam ini
Cabutkan keraguanku pada SyariatMu
Kekalkan ia dalam tetesan embun malam hari
Sampai fajar menjelma memalingkan duka-duka

Banda Aceh, 20 Feb 2013

Romansa

Ayo kita menari-nari
Tabuhkan dendang Gendang dan Rapai
Satukan kata dengan hati
Qanun Jinayah harga mati

Ayo kita bernyanyi
Lantunkan lagu Jeumpa dan Hikayat Prang Sabi
Satukan jiwa dengan kalam Ilahi
Qanun Jinayah menjadi saksi

Ayo tunggu apalagi
Gerakkan badan lantunkan melodi
Berseudati kita senangkan diri
Agar mereka terbuka hati

Mesjid Baiturrahman,
Banda Aceh, 01 Maret 2013

Tanda Tangan Demi Qanun Jinayah

Lantunan hati mereka berdendang malam itu
Membangunkan manusia yang lelap dibuai harapan
Sepotong ayat menggantung di Langit
Suatu waktu akan dijatuhkan
Penduduk bumi akan girang

Bagaimana Langit tak mendung hari ini?
Ketika suara-suara itu sirna dihempas angin
Namun hati telah bersatu padu
Beraksi demi Tangan Tuhan bersemayam di Bumi

Semua jiwa rasa akan ditumpahkan
Bersama setetes embun hari itu
Karena azan tak lagi bersahabat
Pada lembaran putih di depan Kuil suci
Supaya rasa itu bukan kebohongan
Ingin diberikan bukti, bukan janji

Ayo, tegakkan barisan
Siapkan genderang perang
Kita manusia pilihan
Demi menegakkan kalimah Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah

Baiturrahmana Banda Aceh 01 Mar 13

Jumat, 01 Maret 2013

Menafakuri Rayap

Alangkah indahnya jikalau kita mampu mengambil aneka hikmah dari makhluk apapun yang Allah SWT ciptakan di muka bumi ini. Rayap, misalnya, adalah salah satu makhluk yang selama ini kita anggap lemah, hina, dan menjijikan. Akan tetapi, sekiranya kita lebih bijak, maka kita pun akan dapat meluangkan waktu dan kepedulian kita untuk berpikir tentang peranan dan manfaatnya bagi kita semua, yang mungkin selama ini sangat terabaikan dari perhatian kita.

Peran rayap tercatat dalam Alquran terekam saat meninggalnya Nabi Sulaeman a.s. Waktu itu, dengan karunia-Nya beliau meninggal tatkala berdiri memegang tongkatnya. Luar biasanya lagi, tidak ada satu makhlukpun yang mengetahui bahwa Nabi Sulaeman telah meninggal. Hingga suatu peristiwa menunjukkan kematiannya, yaitu ketika beliu jatuh tersungkur akibat tongkat yang menopangnya hancur dimakan rayap (QS. 34:14). Sebagai organime pemakan kayu (selulosa), itulah memang sebagian dari misi keberadaan rayap; makan kayu.

Bagaimana rayap mampu melumat kayu? Kayu merupakan produk dari tumbuhan. Tersusun dari unit-unit anhidroglukopiranosa yang bersambungan membentuk rantai molekul. Unit-unit itu terikat dengan ikatan glikosidik. Sebagai polimer, kayu melimpah keberadaanya di dunia, terdapat hampir 26,5 x 1010 ton. Manusia memanfaatkannya dalam berbagai bentuk penggunaan (kertas, kain, bahan bakar, dll) tetapi tak mampu menggunakannya sebagai sumber nutrisi (makanan). Sebaliknya rayap mampu mencerna selulosa sebagai sumber nutrisinya.

Manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa--bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi--, sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin-nya saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tidak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan protozoa yang berperan tetapi bakteria--dan bahkan pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes, Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di "kebun jamur" dalam sarangnya.

Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen.

Dari 2500 jenis rayap di dunia, 200 jenis di antaranya terdapat di Indonesia. Sembilan koma lima persen yang ada di Indonesia tadi justru sangat bersahabat dengan manusia. Sedangkan lima persen rayap lainnya menjadi pengganggu kehidupan manusia, yaitu jenis Cryptotermes curvidnathas, Schedorhinotermes Javanica, Macrotermes gilvus, Cryptotermes cynocepha, dan Microtermes inspiparis. Sikap bersahabat ini karena keberadaan rayap di suatu tempat dapat menjadi indikator kesuburan lahan di lokasi tersebut. Tiada lain karena rayap memang mampu menyuburkan lahan yang diringgalinya. Seekor rayap dapat diumpamakan sebuah bioreaktor yang mampu melumatkan sampah, kayu, kertas dan bahan lainnya, yang terdapat di dalam dan permukaan tanah.

Uniknya, rayap sebenarnya termasuk binatang purba karena sudah ada sejak 200 juta tahun silam, diduga lebih tua dari manusia. Dari waktu ke waktu jumlah rayap terus meningkat mengingat peningkatan jumlah rumah karena meningkatnya jumlah penduduk. Ditambah, hutan sebagai habitat asli rayap, juga mulai berkurang karena dibuka untuk lahan pertanian dan perumahan. Karena tidak ada ranting sebagai bahan makanan rayap, maka kusen pintu, jendela, sampai perabot rumahlah yang jadi sasaran.

Dari 4000 jenis kayu yang ada di Indonesia, hanya sekitar 10 persen saja yang tahan terhadap serangan rayap, diantaranya kayu ulin, merbau, sengon laut, dan kayu laut. Kayu-kayu tersebut memiliki zat ekstraktif yang bersifat racun bagi jamur dan rayap. Sebetulnya semua jenis kayu memiliki zat tersebut, namun zat itu bisa habis tercuci oleh bahan pelarut umum, seperti air hujan, metanol, air panas, air dingin, alkohol dan sebagainya.

Terdapat keistimewaan yang luar biasa dari binatang ini, dari keanekaragaman jenisnya sampai nilai manfaatnya bagi hidup dan kehidupan. Kemampuan dan nilai manfaat rayap ini, mustahil dijelaskan dengan serangkaian peristiwa kebetulan sebagaimana anggapan teori evolusi. Peristiwa kebetulan tidak mampu memunculkan sejumlah mekanisme sempurna ini secara bersamaan. Manusia, dengan akal dan ilmunya, tidak akan percaya bahwa peristiwa kebetulan memunculkan desain ini. Rayap telah Allah ciptakan sebagai bagian dari rancangan seluruh alam ini uamh didesain dengan Maha Sempurna.

Kelebihan nilai manfaat binatang yang satu ini adalah perwujudan ilmu yang Mahaluas dari Sang Pencipta. Allah, Penguasa Seluruh Alam, adalah Pencipta segala sesuatu. Dan seluruh makhluk hidup memperlihatkan tanda-tanda penciptaan sempurna oleh Allah. "Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini". (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 4) ***



(Sumber : Jurnal MQ Vol. 1/No.10/Februari 2002)

Penciptaan Janin

Saudara-saudaraku,

Alangkah indahnya jikalau kita mampu mengambil aneka hikmah dari apapun yang Allah Swt. ciptakan di muka bumi ini. Penciptaan janin, misalnya, adalah salah satu bentuk penciptaan yang kalau kita renungkan akan tampaklah betapa begitu sempurna dan teraturnya Allah dalam merancang setiap makhluk-Nya. Otak manusia bukanlah komputer. Sudah sunatullah bahwa alam tidak merakitnya sampai lengkap terlebih dulu dan baru kemudian dihidupkan. Tidak! Lama sebelum lengkap, otak sudah mulai bekerja. Dan proses penghubungan sambungan otak sebelum kelahiran adalah proses yang kelak juga menggerakan ledakan kegiatan belajar segera sesudah kelahiran.



Sahabatku,
Kalau saja kita dapat menguping bunyi otak pada sebuah janin manusia berusia 10 atau 12 minggu sesudah pembuahan, maka kita akan mendengar suara hiruk-pikuk yang mencengangkan. Di dalam rahim seorang ibu, jauh sebelum cahaya untuk pertama kali mengenai retina mata bayi atau sebelum gambar samar-samar paling awal terbayang di dalam korteksnya, sel-sel syaraf pada otak yang sedang berkembang sibuk dengan kegiatan yang terencana, teratur, tanpa ada kesalahan sedikit pun. Seperti seorang remaja dengan pesawat telepon genggamnya, sel-sel pada suatu daerah otak menghubungi teman-temannya di daerah lain dan saling berhubungan terus dan berulang-ulang, seolah-olah mereka memencet tombol telepon secara otomatis.
Neuron adalah nama sel saraf panjang seperti kawan yang mengantar pesan-pesan; listrik lewat sistem saraf otak. Neuron ini sebenarnya tidaklah mengirimkan sinyal dengan menyebarkannya secara sembarangan. Kalau secara sembarangan, akan terjadi suara-suara derau, seperti bunyi yang terdengar bila sebuah radio disetel setengah-setengah antara dua stasiun. Sebaliknya, bukti-bukti makin menjelaskan bahwa semburan listrik terhentak-hentak yang membentuk bunyi jelas suara ini timbul dari gelombang neuron yang terkoordinasi; gelombang ini berdenyut bagaikan arus laut yang menggerus pasir di dasar samudera; gelombang-gelombang ini sebenarnya sedang mengubah bentuk otak. Gelombang kegiatan ini membentuk sirkuit otak menjadi pola-pola yang lama-kelamaan akan menyebabkan bayi yang lahir nanti mampu menangkap suara ayah, sentuhan ibu, atau gerakan mainan gantung diatas boksnya.



Sahabatku,
Interaksi antar gen ini kira-kira dimulai pada minggu ketiga sesudah pembuahan. Ketika itu selapis tipis sel dalam embrio yang sedang berkembang membuat semacam karya origami, dengan melipat ke dalam untuk membentuk sebuah silinder berisi cairan yang disebut tabung neoron berliat ganda dengan kecepatan 250.000 per menit, otak, dan sumsum tulang belakang membentuk diri dalam sederet langkah tarian yang diprogram dengan ketat. Alam menjadi pasangan paling dominan selama tahap perkembangan ini, tepi lingkungan memainkan peranan pendukung yang paling vital. Perubahan dalam lingkungan rahim-entah akibat kekurangan gizi ibu, penggunaan obat-obatan yang keliru entah infeksi karena virus-dapat merusak presisi jadwal rumit dalam jalir perakitan. Beberapa bentuk epiliepsi, kelambatan mental, autisme, dan skizofprenia rupanya meruakan akibat tidak beresnya proses perkembangan ini.
Pada saat kelahiran otak bayi mengandung 100 miliar neuron, kira-kira sebanyak bintang dalam galaksi Bima Sakti. Terdapat pula satu triliun sel glia (dari kata Yunani yang berarti perekat). Sel glia membentuk semacam sarang yang melindungi dan memberi makan neoron. Memang, otak ini sudah hampir semua sel saraf yang akan dimilikinya, namun pola penyambungan antara sel-sel itu masih harus dimantapkan. Pada tahap ini otak telah menata sirkuit-sirkuitnya menurut tebakan atau atau perkiraannya uang paling baik mengenai apa yang akan diperlukan bagi penglihatan, bagi bahasa, dan bagi apa saja' Sesudah kelahiran kegiatan neuronlah yang berperan untuk mengambil bagian kasar ini dan berangsur-angsur, menghaluskannya; dan sesudah kelahiran, kegiatan neuron ini tidak spontan lagi, melainkan digerakan oleh banjir pengalaman indra.



Sahabat-sahabatku,
Selama tahun-tahun pertama kehidupan otak mengalami rangkaian perubahan yang luar biasa. Tidak lama sesudah kelahiran, otak bayi, menghasilkan keberlimpahan biologis berupa bertriliun-triliun sambungan antar neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan. Selanjutnya melalui suatu proses semacam persaingan ala teori Darwin otak akan memunahkan sambungan (sinapsis) yang jarang digunakan atau yang tidak pernah digunakan. Sinapsis yang berlebih dalam otak kanak-kanak akan mengalami pemangkasan drastis, yang dimulai pada usia 10 tahun atau sebelumnya. Sesudah pemangkasan ini, yang tinggal adalah otak yang pola emosi dan pola pikirannya unik. Dalam arti baik ataupun buruk.
Bila tidak mendapatkan lingkungan yang merangsangnya, otak seorang akan akan menderita. Anak-anak yang jarang disentuh, perkembangan otaknya 20%-30% lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu.



(Sumber : Jurnal MQ Vol. 1/No.9/Januari 2002)

Menghargai Perbedaan

Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.
Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."
Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.
Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.
Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan.
Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."
Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.
Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.
Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.
Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.
Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.
Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.
Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?


Terhambatnya Qanun Jinayah, Pemimpin Aceh masih galau


________________________________________
SEBENARNYA Nabi Saw pernah bersabda ketika perang Badar berkecamuk. Beliau dengan nama Allah mengatakan “Jika pasukan perang Badar ini hancur. Tentu Engkau tidak akan disembah lagi, Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selama-lamanya setelah hari ini.”
Nabi saw tidak pernah dulunya berdoa seperti ini, karena keadaan perang sudah sangat atraktif dalam jumlah pasukan muslim kalah banding, dan merupakan perang yang menentukan langgengnya agama Islam untuk selama-lamanya di dunia ini, beliau bersimpuh memohon kepada Allah untuk dimenangkan dalam perang Badar tersebut.
Pasca wafatnya Nabi saw, kekhalifahan Abu Bakr Al-Shiddiq berada dalam pertarungan dan masalah besar. Disebutkan juga dalam sejarah Islam, fenomena murtad dan pemurtadan tumbuh beriring ketidakinginan masyarakat untuk membayar zakat semakin menjadi-jadi.
Nabi-nabi palsu bermunculan mengkampanyekan dirinya sebagai pengganti kekosongan Nabi dengan menciptkan hadis dan ayat-ayat palsu. Aswad Al-Ansi di Yaman dan Musailamah bin Habid di Yamamah terus menarik massa untuk mengakui kenabian mereka. Mereka mengajak orang-orang yang lemah imannya.
Permasalahan itu terjadi beruntun yang sangat mengkhawatirkan eksistensi umat Islam dan Islam itu sendiri. Abu Bakr tidak boleh membiarkan pergolakan ini berlanjut terus menerus tanpa ada aksi untuk memerangi mereka. Suhail Bin Amr sahabatnya mengatakan bahwa “Islam sekarang sudah bertambah kuat, barangsiapa masih menyangsikan kami, akan kami penggal lehernya.”
Kemudian Abu Bakr memerangi para pembangkang itu hingga mereka kalah tercabik-cabik. Umar Bin Khattab terkenal dengan usahanya memperluas wilayah Islam dan mengembangkan daerah-daerah kekuasannya dengan sinar Islam. Ia juga merupakan mujtahid ternama dalam sistem perundang-undangan Islam. Juga khalifah-khalifah selanjutnya tidak pernah henti berdakwah memperjuangkan agar agama Islam tegak di bumi ini.
Islam memiliki karakteristik syumuliyah (universal) yang mampu menjawab semua permasalahan zaman dimanapun dan kapanpun. Islam mampu merangkul seluruh kehidupan umat manusia dan tidak kenal kadaluarsa (expire) digerus ruang dan waktu. Islam mampu menjangkau segi individualitas-komunitas manusia dan membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Menciptakan mereka rukun dan damai berlandaskan cahaya Alquran dan Hadis, serta menciptakan dunia yang sinergis dengan seluruh kebutuhan-kebutuhan pemeluknya (insaniyah). Syariat Islam dapat menjawab berbagai persoalan hidup, baik melalui aspek Ibadah, Muamalah, Jinayah dan lain sebagainya.
Kebenaran Islam tidak dapat diragukan. Berlandaskan dua sumber hukum itu dapat diambil berbagai macam kebutuhan umat manusia. Kalau ajaran Islam yang melahirkan Syariat-syariat diragukan oleh pemeluknya, itu disebabkan keterbatasan (pemahaman) muslim tersebut dalam memahami Islam secara komprehensif dan paripurna.
Islam dengan Syariatnya yang telah berada di Aceh juga berkemungkinan terjadi permasalahan-permasalahan. Hal ini disebabkan tempat dan waktu berbeda sehingga dalam perwujudan Islam dengan sumber sejarah dan hukum-hukum yang dikandung dalam Alquran juga berbeda-beda. Syariat Islam yang telah berada di Aceh semenjak diberlakukan, telah terbukti menjadi patokan dan identitas khusus masyarakat Aceh, walaupun terjadi perdebatan-perdebatan sengit.
Memang diakui sampai hari ini perjuangan Syariat Islam di Aceh tidak pernah henti-hentinya dikumandangkan. Pernah ada masa kejayaannya, pasang surut dan mundur (bukan hancur).
Masa Sultan Iskandar Muda Syariat Islam telah menjadi jantong hate rakyat Aceh dalam berkehidupan. Tuan Muda ini bergerak secara up to down, berangkat Syariat Islam dari Istana kepada rumah-rumah penduduk/rakyatnya.
Ia orang nomor satu yang mengkampanyekan Syariat Islam kepada rakyatnya, tidak hanya beretorika, buktinya Meurah Pupok seorang Putra kesayangannya dipancung lehenya di depan umum. Senganja ia lakukan, sebagai bentuk ketaatannya kepada Syariat Allah dan pembuktian ia sebagai raja yang menerapkan Syariat Islam dalam era pemerintahannya.
Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh pada tahun1948 pernah memohon kepada Presiden Soekarno untuk diberlakukan Syariat Islam di Aceh. Beureu-eh dengan seperangkat pasukannya sebelumnya bergerilya di hutan, menambahan pasukannya dan ia berpikir supaya Aceh bisa berdiri berdasarkan Syariat Islam. Ia tidak meminta lebih dari itu.
Selanjutnya masa pergerakan GAM, juga selalu didendangkan Syariat Islam dalam identitas perjuangannya. Dikatakan waktu itu, Aceh harus berdiri sendiri baru mampu menerapkan Syariat Islam secara kaffah. Perjuangan ini mengabadikan kepada kita patriotisme masyarakat Aceh memperjuangkan Syariat Islam, mereka rela hilang nyawa, mereka rela miskin, diterlantarkan, dibunuh, dan lain sebagainya, yang terpenting adalah Syariat Islam membumi membahana di Serambi Mekah.
Perjuangan-perjuangan rakyat Aceh dari dulu sampai sekarang hanya disemangatkan pada satu semboyan hudep sare matee sadjan. Hanya karena Syariat Islam, hanya karena kecintaan kepada Islam, agama Allah ini. Hal ini melambangkan kecintaan masyarakat Aceh kepada Syariat Islam bisa dikatakan tidak pernah luntur. Di samping dari faktor itu memang diakui ada juga orang-orang yang bersifat munafik (hipokrit) sehingga memanfaatkan jiwa-jiwa masyarakat untuk kepentingannya. Mengatasnamakan Syariat Islam untuk kepentingannya.
Bertolak belakang
Sengaja penulis angkat sejarah perjuangan berlandaskan Islam di atas. Di sana nampak, otoritas kepemimpinan membuktikan Islam berjaya, dan terlihat kepada kita untuk menegakan Syariat Islam dan berdakwah harus dimulai dari pemimpin tersebut, bukan sebaliknya.
Perjuangan mengatasnamakan hukum Tuhan sampai kapanpun tidak pernah lekang dari literatur dan dinamika perjalanan sistem agama-sosial kemasyarakatan. Sejarah bisa menjadi pelajaran (ibrah) kepada generasi setelahnya.
Sejarah merupakan guru paling penting, berkaca dari sejarah membuat kita selalu dalam keadaan sadar dan terkontrol pikiran kita guna tidak mengulangi kesilapan-kesilapan yang pernah diperbuat yang menghambat segala sesuatu untuk tujuan akhir. Namun sebaliknya tanpa bercermin daripada sejarah kita akan buta, dan menjadikan segala sesuatu itu kabur tak bermakna dan bisa menyebabkan tujuan akhir menjadi hancur berkeping-keping.
Memang diakui mustahil kita menjiplak keberhasilan-keberhasilan dan tata cara pelaksanaan Syariat Islam tempo dulu. Namun, bukan itu yang diminta dari sejarah sebenarnya, justru semangat perjuangan serta nilai-nilai perjuangan yang dikandung di dalamnya itulah yang harus diambil untuk kita aplikasikan dalam kehidupan dewasa ini.
Kita patut bersyukur kepada Allah swt karena dalam kehidupan kita (Aceh) sudah dianugerahkan Syariat Islam. Sehingga dengan memperlakukan Syariat Islam dengan benar, kita akan mendapat ridhaNya dan memperoleh kemaslahatan hidup, damai dan sejahtera.
Syukur kita kepada Allah dengan cara selalu melaksanakan yang lebih dari apa yang telah kita lakukan pada saat ini, misal dahulu kita belum ada membuat Qanun Jinayah dan Hukum Acara, sekarang telah ada. Bentuk syukur kita kepada Allah adalah segera memberlakukan kedua qanun itu.
Namun yang muncul kepermukaan hari ini terkait implementasi Syariat Islam adalah bertolak belakang dari apa yang diharapkan. Syariat Islam dengan muatan Qanun Jinayah dan Hukum Acara sampai sekarang belum diparipurnakan untuk disahkan. Sungguh ini sebuah masalah dan dilema yang berkepanjangan sekiranya tidak segera diselesaikan.
Harapan supaya Syariat Islam terus berjaya tapi disintir cenderung stagnan dan mundur. Qanun Jinayah dan Hukum Acara Jinayah sejak dari tahun 2009 lalu sampai sekarang dipolemikkan. Ada semacam ketidakberdayaan pemimpin untuk memaknai secara paripurna kedua qanun ini.
Kita bisa saja berkata seperti itu, karena masalah menyangkut Fiqh khususnya dan agama umumnya adalah ulama yang lebih mengerti/mumpuni atau orang yang ahli dalam bidangnya. Jadi permintaan ulama selama ini dan Ormas Islam yang ‘telah’ diabaikan, terlihat ke publik bahwa pemimpin hari ini cenderung mengabaikan suara ulama.
Seperti berita kemaren, akibat sikap Gubernur “Ormas Kecewa Pada Gubernur” (Serambi Indonesia 20 Februari 2013). Penulis melihat semenjak qanun itu dibuat sampai sekarang ada-ada saja dalih alasan untuk tidak jadi diterapkan.
Pemimpin (eksekutif-legislatif) juga sering mengiming-iming kepada publik dengan kalimat-kalimat mutasarri’ah (bersegera), sehingga ini juga terkesan seperti pembodohan massa. Alasan-alasan mereka juga terkesan seperti mengaburkan dan memutar-mutar fakta dan selalu mengedepankan improvisasi-improvisasi untuk memanifestasikan Qanun ini. Padahal sampai sekarang nampak ‘keengganan’ mereka untuk mewujudkannya dengan alasan berbagai macam.
Harapan
Polemik di atas sepertinya segera berakhir. Mungkin dulu ada kekosongan ketua di Dinas Syariat Islam Aceh sehingga dapat dibuat alasan kedua Qanun ini tidak masuk prioritas (proledga). Namun setelah dilantik ketua Dinas Syariat Islam yang baru (Serambi Indonesia, 18 Februari 2013), dapat disebut seperti membawa ‘angin segar’ di tubuh DSI Aceh itu sendiri, dan terhadap jalannya proses Syariat Islam (Qanun Jinayah dan Hukum Acara) khususnya.
Mungkin hal yang paling urgen pertama yang harus dipublis ke masyarakat adalah tentang kedua qanun itu supaya dapat dimasukkan dalam Raqan Prioritas tahun ini. karena di lapangan telah terbukti bahwa kedua qanun ini telah menjadi permintaan masyarakat, bukankah Syariat Islam itu dibuat untuk kemaslahatan manusia?
Sekarang nampak di lapangan kedua qanun itu tidak di-kontra-kan yang dapat menimbulkan kecekcokan dan silang pendapat. Potret ini bernilai positif artinya para Eksekutif dan Legislatif, khususnya juga DSI tidak disibukkan daengan urusan silang pendapat itu, jadi, dengan leluasa bekerja sekaligus mendapatkan hasilnya.
Dan sangat ‘tipis’ alasan sekiranya kedua qanun itu dipermasalahkan dengan sebab dari luar yakni seperangkat hukum-hukum Nasional yang dikira bertentangan. Hubungan dan dinamisasi perjalanan Syariat Islam sudah demikian ada kesimpulannya, ramai sudah pakar/ahli sepakat mengatakan bahwa tidak bertentangan sama sekali percaturan hukum-hukum nasional dengan qanun-qanun ini.
Namun, ketua DSI sekarang lebih mengerti dari kita dan tahu apa yang mesti didahulukan untuk dilakukan. Akhirnya penulis mengucapkan selamat kepada Ketua DSI yang baru yang telah dilantik oleh Bapak Gubernur. Semoga amanah yang diembankan benar-benar menjadi penawar kehidupan dan seperti cahaya yang kembali menyinari bumi pagi ini. Barakallahu fi umrikum, amiin
Oleh Syamsul Bahri | Mahasaiswa Pascasarjana Konsentrasi Pendidikan Islam IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh
tulisan ini sudah di publikasi di situs beria online suaraaceh.com